Senin, 14 Maret 2016

Ini Hati bukan Tali (Kepada yang datang dengan kasih menyembunyikan kekasih)


Dua pertiga malam sebelum matahari pagi merebak di Sabtu yang senggang, sajadah dan sepasang mukenah parkir mentereng di sandaran kursi. Malam itu ku rampungkan ibadah lail, sembari menunggu mata kembali disapu kantuk aku mengisi jeda itu dengan memelintir gadget, tidak ada yang istimewa serba semenjana, ada yang memamerkan pasangannya, keluarganya, harta benda, sahabat, jabatan, dan keilmuannya dalam berbagai model verbal yang berbasa-basi, mentah, juga matang, semua komplit di pertemanan sosial mediaku bak toko campuran yang menyediakan barang varian apa saja.
Masih sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang, aku sudah beralih membaca Novel yang ditulis oleh penulisnya, tiba-tiba dibuyarkan oleh pemberitahuan dari gadget, permintaan pertemanan di salah satu jejaring sosialku. Aku termasuk orang yang memilah-milih orang yang akan ku konfirmasi, biasanya indikator pertama adalah berapa jumlah teman yang sama, dan teman yang sama itu mesti dari komunitas pertemananku yang mana di dunia nyata, apatah teman SMA, teman kampus dan seterusnya, bila ternyata banyak pertemanan yang sama maka dengan mudah akan ku konfirmasi. Kebetulan akun yang mengajukan permintaan pertemanan tersebut dari salah satu komunitasku di dunia nyata, ku sebut saja sekampus, maka cukup mudah untuk menggerakkan ibu jariku mengklik “konfirmasi”. Tidak butuh seratus purnama, hanya beberapa menit, akun yang baru saja ku konfirmasi itu menyapa lewat chat, pada diriku yang amat tidak senang menyantap basa-basi tentu saja chat semacam itu ku abaikan.
Seminggu berselang, di hari Sabtu pagi yang penuh tekanan kemalasan, pukul Sembilan pagi dan aku belum mandi, tertahan oleh gravitasi kasur yang menarikku lebih kuat, sambil mengumpul kekuatan untuk bertarung melawan basah di kamar mandi aku mencandai rasa sepiku dengan menggodai layar gadget, lalu ku dapati lagi si akun yang seminggu lalu itu menyapaku lewat chat, kali ini dia datang dengan menenteng deretan nama pesohor sastra yang dijadikan santapan pembicaraan, terasa sangat serius dan membuatku secara sukarela tertarik membalas dan menyambut tentengan itu, kami akhirnya terlibat dalam pembicaraan yang mengalir, tidak genang dan keruh. Latar belakang dari kampus yang sama membuat kami tidak kesulitan untuk sambung menyambut keramahan dan menemukan bahasan lain yang akrab walau belum bersua di dunia nyata.
Setiap aliran menuju muara, di sana yang sebelumnya mengalir itu menuju untuk kemudian tertampung, demikian dengan komunikasi kami, hanya tiga hari berselang hingga dia sudah begitu berani menyatakan suka, cinta dan keinginan untuk bersama, bukannya merasa panahan bagiku justru itu semacam padahan, sungguh telah banyak hal yang disangsikan oleh perasaan yang datang dengan begitu ringan dan seketika bahkan tanpa sua rupa, aku paham tidak semua perasaan membutuhkan waktu yang lama juga tatap fisik, tapi terlalu cepat itu juga mengherankan kendati dikata cinta adalah sebentuk rasa yang tidak terjelaskan dengan akal pikiran, namun tetap saja “lucu” menurutku jika cinta datang seperti dikejar pemangsa.
Bagaimana pun neouron dan perasaanku mencoba melakukan pemakluman pada cinta yang buru-buru, tetap saja ku bilang itu gampangan, maka dengan penuh hormat ku nyatakan jawabanku padanya dengan maksud ia merenungkan perasaannya sekali lagi, hebatnya ia mendelik bahwa perasaannya adalah sebenarnya cinta dan akan ia perjuangkan sampai aku percaya. Bagiku, merasa adalah asasi, urusan yang punya perasaan, jika ia mau berjuang seperti katanya maka tugasku adalah tidak menghalang-halangi sejauh itu tidak melabrak hakku yang asasi pula.
Dua hari berselang, setelah di hari Selasa sebelumnya ia melontarkan kata cinta beserta anak pinaknya, Jum’at sore, ku buka salah satu jejaring sosialku yang lainnya lalu ku dapati seorang wanita mempost foto yang mesra bersama seorang lelaki, lelaki yang tidak asing rupanya, pada postingan tersebut terdapat keterangan berpacaran pada hari itu juga, Jum’at, ringan sekali kalimat si wanita dalam posting itu “Tidak butuh waktu lama untuk mengatakan iya untukmu, semoga hari ini adalah awal untuk waktu yang lama”. Persis di dua hari setelah kau menyatakan cinta dan perjuangan padaku, rupanya kau sudah sukses menggait hati di tempat lain, sungguh perasaanmu itu berseliweran.
Jum’at malam hari, kau kembali menyapaku lewat chat, masih seperti biasa dan aku pun dengan bijak berpura-pura, sangat bijak, seolah tidak ada kebenaran yang baru saja terkuak. Ah parodi perasaan dan kebohongan, sungguh selalu jadi tontonan yang memukau. Baru saja kau menjalin kasih dengan perempuan lain, dan di hadapanku kau seolah tidak terjadi apa-apa, padahal tidak lain sedang memerdekakan kebuasanmu.
Kau seperti nelayan yang memasang jaring dibanyak tempat untuk mengangkut ikan, dari semua yang tersangkut di jaringmu ego akan menuntunmu serakah atau mencampakkan yang tidak kau kehendaki, sangat brutal tak berperi. Aku tidak sedang mengurai rasa sakit atau kecewa yang ditimbulkan karena adanya harapan akan diperjuangkan atau lebih oleh setiap mereka yang menyatakan perasaan, tapi perasaan bukan sesuatu yang seenaknya digampangkan datang dan pergi secara impulsif, setidaknya jika perasaan yang dimaksud barulah sebatas reka-reka dugaan maka jangan keburu dinyatakan sampai telah benar-benar yakin itu adalah sebentuk perasaan yang patut diikhtiarkan secara konsisten dan konsekuen.

Tidak bisa ku bayangkan jika ternyata kita-kita ini adalah manusia yang terlahir dari luapan perasaan ayah-ayah kita masing-masing yang sifatnya hanya impulsif ke ibu-ibu kita, betapa setiap ibu akan membesarkan anaknya dengan banyak susu pedih dan bubur luka, dan berapa banyaknya diantara kita ternyata adalah saudara seayah ke-impulsif-an. Pada akhirnya, Ini hati bukan tali yang layak ditarik ulur, pun tali, jika kelamaan kau tarik ulur akan putus juga, ku bingkis satu oleh-oleh dari perkenalan kita untukmu “mulut terdorong, emas padahannya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar